Sabtu, 05 Januari 2013

Naskah "Satu Malam di Museum Hantu"

Inilah naskah drama yang lainnya!

SATU MALAM DI MUSEUM HANTU

Narator            :  “Museum Hantu, museum yang menyimpan patung-patung hantu terbuat dari lilin, juga menyimpan benda-benda keramat. Museum ini terkenal akan sejarah hantu-hantu yang pernah disaksikan ‘muncul’ oleh orang-orang. Namun, akhir-akhir ini berhembus rumor yang mengatakan bahwa pada malam bulan purnama, patung-patung hantu tersebut akan hidup dan bergerak.”
                     “Pada suatu malam bulan purnama, dua orang gadis menyusup ke dalam museum untuk membongkar kebenarannya,”
Fatimah           :  (sambil gemetaran, bersembunyi di belakang Andien)
                     “Ndien, kita pulang aja, yuk! Takut, nih…”
Andien            :  “Udah, tenang aja, nggak ada apa-apa, kok!”
Fatimah           :  “Tapi, gelap banget, nih…”
Andien            :  “Huh! Kalau takut begitu mending tadi kamu nggak usah ikut,”
                     Andien dan Fatimah berjalan menyusuri lorong museum yang gelap nan sunyi. Untuk penerangan, Andien memegang senter kecil. Ia menyorotkan cahaya senter ke beberapa patung hantu. Setelah mereka berdua berlalu, patung-patung hantu itu perlahan menggerakkan lehernya tanpa mereka ketahui.
                     BRAAK!!!! (terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras)
                     Krieeet… krieet…. (suara pintu berderit)
Fatimah           :  “Waaa!!! Andien!! Apaan itu???” (mendekap erat bahu Andien)
Andien            :  “Te, tenang dulu!” (menerangi sekitar dengan senter)
                     Cahaya senter itu menangkap sosok yang membuat Andien dan Fatimah menahan napas.
Fat & And       :  (melihat Pocong 1) “Waaaaa!!!!!” (berbalik arah)
Pocong 2         :  (datang sambil melompat-lompat, kemudian terjatuh) “Aduh!!”
Fat & And       :  (bingung) “Eh??”
Pocong 2         :  (berusaha berdiri)
                     “Uuh… susahnya jadi pocong, harus loncat-loncat, jalan aja, ya?!”
Fat & And       :  (bengong dan keheranan) “Heeeh??”
                     Si Pocong berjalan beringsut mendekati Andien dan Fatimah. Mereka melangkah mundur pelan-pelan.
Andien            :  “Ng, Mas, pocong kan, biasanya pakai kain kafan. T, tapi, kok, Mas malah pake sarung?” (sambil menunjuk pada Si Pocong)
Pocong 2         :  “Kreasi baru, Mbak. Biar ditaksir cewek kayak Wenny Beautiful itu, hi.. hi.. hi..” (sambil malu-malu menunjuk pada penonton)
Fatimah           :  “Gila, pocong mana ada yang suka?”
Andien            :  “Ya, ya, udah, deh! Kami pergi dulu!” (menggandeng tangan Fatimah)
Pocong 2         :  “Oke! Nanti hubungi aku, ya!”
Fatimah           :  “Gila, ini pocong narsis amat.” (buru-buru pergi)
                     Di lobi museum, mereka berhenti berlari.
Andien            :  “Ya ampun! Mereka beneran hidup?”
Fatimah           :  “Berarti rumor itu benar, ya?”
Andien            :  “Ng, gimana, ya?”
Fatimah           :  (menunjuk-nunjuk ke belakang Andien) “I.. i, itu.. a.. ada.. vam..”
Andien            :  “Ada apa, sih?” (menoleh ke belakang) “Huwaaa!! Tidak!! Jangan hisap darahku! Darahku nggak enak, kurang garam dan merica! Fatimah aja yang gemuk!”
Fatimah           :  “Enak aja!!”
Vampir            :  “Yeeey… siapa yang mau hisap darah, saya aja sakit gigi. Aduuh! (memegangi pipinya)
Fat & And       :  (kaget) “Heee?”
Fatimah           :  “Ta, tapi tadi kamu kayak mu gigit Andien,”
Vampir            :  “Aah… Cuma bercanda, kok. he… he…” (menggaruk kepalanya)
Fatimah           :  “Dia ini vampir apa bukan, sih?”
Andien            :  “Ng, nggak tahu, tuh! Udah, deh! Kita kabur aja dulu!” (menarik lengan Fatimah dan buru-buru meninggalkan Vampir)
Vampir            :  (bingung) “Eh, lho! Mbak! Hoi! Kok, mereka kabur kayak habis lihat hantu, sih? Padahal, aku udah tampil keren banget begini,” (memeriksa penampilannya)
                     “Ah, jangan-jangan karena aku bau, ya? Tapi, nggak mungkin! Aku, kan, udah mandi. Lagian, aku pakai parfum 5 botol, kok! Terus, kenapa mereka kabur? Aahh!! Sayang banget, padahal cewek cantik.”
Fatimah           :  (terengah-engah) “Hahh, hahh, capek banget dari tadi lari-lari terus!” (mengusap keringat di dahinya)
Andien            :  “Yah, lumayan buat nurunin berat badan, kan?”
Fatimah           :  “Kamu, di saat begini masih sempat-sempatnya bercanda,”
Andien            :  “Siapa yang bercanda?”
                     Tiba-tiba, Pocong 2 dan adiknya, Pocong 1 melompat ke belakang Andien dan Fatimah.
Fat & And       :  “Waaaa!!!!!” (langsung kabur)
Pocong 1&2 :  (saling berpandangan)
Pocong 1         :  “Kak, kok, mereka lari, sih?”
Pocong 2         :  “Tahu, tuh! Padahal, aku mau minta nomor hp, ee… malah kabur.”
Pocong 1         :  “Harus lompat-lompat lagi, deh! Udah capek, nih!”
Pocong 2         :  “Sama tahu! Ya udah, kita jalan aja!” (berjalan beringsut pelan)
Fatimah           :  “Andien!! Stop! Aku udah nggak kuat lagi, nih! Bisa-bisa tulangku copot kalau lari lagi!”
Andien            :  “Oke! Kayaknya disini aman, kita istirahat dulu!”
Fatimah           :  “Ndien, kayaknya mau nggak mau kita harus percaya rumor itu, deh!”
Andien            :  “Yaah… tapi, penjelasan ilmiahnya gimana, tuh?”
Ratu Hantu      :  (menggumam pelan) “Hi.. hi.. hi..”
Fatimah           :  “Ssst!! Ndien! Kamu dengar itu?”
Andien            :  “Suara apa?”
Fatimah           :  “Tadi aku dengar, kok!”
Andien            :  “Fat, please! Jangan bercanda di saat begini!”
Fatimah           :  “Beneran, Ndien! Aku dengar!”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi… hi..”
Fatimah           :  “Tuh, kedengaran, kan?”
Andien            :  “Udah, ah! Aku ini lagi pusing mikir kenapa patung-patung itu bisa hidup!”
Ratu Hantu     :  “Hi… hi.. hi… mau tahu?” (merangkul bahu Andien)
Andien            :  “Huwaaa!!! Si, siapa kamu?”
Ratu Hantu     :  “Hi… hi.. hi… mau tahu?”
Fatimah           :  “Hei, hei! Dialognya jangan diulang-ulang, dong! Belum latihan, ya?”
Ratu Hantu     :  “Enak aja! Huhh!!” (memalingkan muka)
Fatimah           :  “Terus, kamu siapa?”
Ratu Hantu     :  (tersenyum) “Hi..  hi.. hi… aku Ratu Hantu.. hi.. hi..”
Fat &And        :  (heran) “Hee? Ratu Hantu?”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi… betul sekali! Aku pemimpin semua hantu disini,”
Andien            :  (memandangi Ratu Hantu dari atas sampai bawah) “Ka, kamu beneran Ratu Hantu?” (menunjuk padanya)
Ratu Hantu     :  (melotot tajam) “Cih, kamu nggak dengar apa kataku, ya? Tadi aku sudah bilang aku Ratu Hantu, kan?” (emosi)
Andien            :  “Iya, iyaa… aku dengar, kok!”
Ratu Hantu     :  “Hmm… bagus..”
Fatimah           :  “Tapi, Ratu Hantu ini kesannya kok, kayak super model, ya?”
Andien            :  “Eh, kalau boleh tanya…”
Ratu Hantu     :  “Boleh, silahkan saja! hi.. hi.. hi…”
Andien            :  “Ng… biasanya Ratu Hantu rambutnya panjang dan berantakan, terus bajunya putih panjang. Tapi, yang ini, kok, malah kayak Cherrybelle?”
Ratu Hantu     :  “Hi…hi.. hi… ganti model! Ganti model! Rambut panjang itu gampang rontok, kalau keramas butuh sebotol shampoo. Ogah pakai baju putih, soalnya gampang kotor, capek nyucinya, Neng!”
Fat & And       :  “Ooh…” (dengan muka keheranan)
Andien            :  (berbisik pada Fatimah) “Si Ratu Hantu ini kepalanya habis ketubruk apa, ya?”
Fatimah           :  “Tahu, tuh!” (mengangkat bahu)
Andien            :  (Memandangi aksesoris yang dipakai Ratu Hantu) “Ada, ya, hantu yang pakai aksesoris begituan?”
Ratu Hantu     :  “Aduh, kamu ini anak dari zaman mana, sih? Zaman sekarang itu yang beginian lagi nge-trend! Hi.. hi.. hi..”
Andien            :  “Ukh! Lama-lama si Ratu Hantu Super Centil ini jadi Jeng Kelin,”
Fatimah           :  “Sabar, Ndien, sabar…” (mengelus bahu Andien)
Andien            :  “Oh iya! Kalau kamu ratu disini, kamu pasti tahu kenapa patung-patung disini jadi hidup, kan?”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi… tentu saja aku tahu. Memang kenapa?”
Andien            :  “Kami menyelidiki rumor tentang itu. Jadi, tolong ceritakan pada kami!”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi.. Okee… jadi, begini…” (diam sejenak) “Kasih tahu nggak, yaa?”
Andien            :  “Hoooi!!” (emosi dan geregetan)
Fatimah           :  “Sabar, Ndien!! Sabaar!!” (berusaha menahan Andien)
Ratu Hantu     :  (tersenyum usil) “Hi.. hi.. hi…”
Andien            :  “Please, deh! Kami butuh penjelasan!”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi.. oke, oke, akan kuceritakab.” (menunjukkan cincinnya) “Lihat?”
Andien            :  “Kenapa dengan cincin itu?”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi.. Ini cincin keramat dengan batu istimewa. Batu yang ‘WOW’ dan ‘Sesuatu’ gitu.”
Fatimah           :  “Kok, gaya bicaranya jadi kayak Syahrini?”
Ratu Hantu     :  “Aku juga gaul, tahu!” (sewot)
Andien            :  (tidak sabar) “Jadi, apa hubungannya?”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi.. saat cahaya bulan purnama memantul di batu ini, kekuatan yang ‘aneh dan tidak dapat dijelaskan’ ini keluar dan membuat semua patung disini hidup. Dan bergerak tentunya,”
Fat & And       :  (bingung dan melongo) “Hah?”
Andien            :  “Sebentar! Kok, kayak cerita mistik?”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi… banyak hal yang tidak bisa dijelaskan di dunia ini, kan?”
Fatimah           :  “Sayang sekali dia benar, Ndien,”
Andien            :  “Oke, anggap aku percaya. Walau sebenarnya nggak percaya. Jadi, intinya cincin itu ‘sumber energi’ disini?”
Ratu Hantu     :  “Hi… hi… hi.. betul banget!” (sok centil)
Fatimah           :  “Emang ada, ya, ratu yang centil begini?”
Andien            :  “Lalu, apa yang terjadi kalau malam hari sudah lewat?”
Ratu Hantu     :  “Hi.. hi.. hi.. tentu saja energy cincin akan habis dan semuanya kembali jadi patung lilin.”
Andien            :  (tampak berpikir) “Hmm…”
Fatimah           :  “Udahlah, Ndien! Terima aja penjelasan tadi. Kalau kamu terus-terusan mikirin itu, bisa-bisa otakmu tinggal separuh! Kebanyakan mikir!”
Andien            :  “Yah… soal itu..”
                     Andien dan Fatimah terkejut melihat Vampir, Pocong 1 dan Pocong 2 datang mendekat.
Andien            :  “Eh, a, apa ini? Kenapa..?”
Fatimah           :  “Ndien, aku takut banget, nih!!”
Andien            :  “Hei! Apa maksudmu melakukan ini?”
Ratu Hantu     :  (tertawa sinis) “Hi.. hi.. hi… kalian sudah tahu rahasia disini. Maka, kalian harus dibungkam agar rahasia ini tidak bocor.”
Andien            :  “Ta, tapi..” (melihat semua yang mengelilinginya makin mendekat)
Fatimah           :  “Tidaaaaaaakkk!!!!”
                     Suasana menjadi hening sejenak.
Andien            :  (membuka mata) “Lho? Kok, mereka diam aja?”
Fatimah           :  “Heh?”
Andien            :  “Ternyata, sudah pagi…”
Fatimah           :  “Eh, berarti yang dibilang si Ratu Hantu benar, dong?”
Andien            :  (terdiam) “Fat, Kita habis bermimpi, ya?”
Fatimah           :  “Tahu!” (mengangkat bahu) “Ah, sudahlah, kita pulang aja, yuk!”
Andien            :  “Ng, yah.. oke, deh…”
                     Mereka pun menyingkir dari tempat itu. Mereka tidak tahu bahwa Ratu Hantu mengedipkan sebelah matanya pada mereka)
Narator            :  “Akhirnya Andien dan Fatimah dimarahi oleh petugas museum karena menyelinap seenaknya di malam hari. Anak baik jangan meniru mereka, ya!”



SELESAI



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar